Thursday, August 16, 2007

Perang Sejati ala Amerika

Perang Sejati ala Amerika

Oleh Khalid Hasan

Dalam sebuah buku yang dikeluarkan oleh Brezinsky—seorang ahli Amerika sekaligus mantan anggota dewan hubungan luar negeri dan mantan penasihat pemerintah dalam urusan keamanan nasional Amerika pada masa Presiden Jimmy Carter—yang dikeluarkan tahun 1997 dengan judul, Papan Catur Besar (yang berbicara di seputar superioritas Amerika dan berbagai tuntutan strategisnya), disebutkan bahwa tantangan Amerika dalam upayanya menancapkan hegemoninya atas dunia secara terus-menerus adalah bagaimana menguasai wilayah Eurosia. Eurosia (Eropa-Asia) adalah wilayah yang terletak di sebelah timur Jerman dan Belanda, yang membentang mulai dari Rusia dan Cina hingga Samudera Pasifik, serta mencakup Timur Tengah dan sebagian besar wilayah di Anak Benua India. Brezinsky memandang wilayah Eurosia ini sebagai pusat kekuasaan di dunia. Kunci untuk menguasai Benua Eurosia ini adalah Asia Tengah dengan kunci terakhirnya adalah Uzbekistan.

Memperkuat pandangannya mengenai tantangan yang dihadapi Amerika ini, Brezinsky mengatakan, “Amerika saat ini merupakan satu-satunya kekuatan yang dominan di dunia, sementara wilayah Eurosia merupakan faktor penggerak utama dunia sekaligus medan persaingan global. Karena itu, sesungguhnya apa pun yang dilakukan demi membagi kekuasaan di Benua Eurosia akan sangat berarti secara pasti terhadap pengaruh global Amerika dan warisan sejarahnya.”

Ia juga berkata, “Eurosia adalah benua yang paling besar di dunia. Kekuatan manapun yang mampu menguasai benua ini pasti akan mampu—secara progressif—menciptakan hegemoni atas dua pertiga lebih wilayah di dunia serta menguasai—secara efektif—sumberdaya ekonomi dunia. Dengan pandangan sekilas saja atas peta wilayah ini akan dapat ditemukan, bahwa penguasaan atas Eurosia akan memberikan peluang penguasaan atas Afrika, yang lebih jauh akan menjadikan setengah bumi bagian barat, wilayah Samudera Hindia, Australia, dan New Zeland—secara geografis maupun politis—mengikuti Eurosia sebagai pusat benua di dunia. Sebagaimana diketahui, di wilayah ini, 70 persen penduduk dunia tinggal; 60 persen PDB dunia dihasilkan; dan tiga perempat energi alam potensial dunia ditemukan.”

Berkaitan dengan energi alam potensial ini, ia juga mengatakan, “Di antara potensinya adalah bahwa konsumsi dunia atas energi alam dalam jumlah besar semakin bertambah selama dua atau tiga dasawarsa terakhir ini, sementara departemen energi Amerika memprediksi bahwa kebutuhan dunia akan energi tersebut akan meningkat 50 persen antara tahun 1992-2010. Konsumsi terbesar terjadi di wilayah Timur Jauh. Sebab, sebagaimana dimaklumi, wilayah Asia Tengah dan Laut Qazin mengandung sejumlah besar cadangan minyak dan gas; diikuti kemudian oleh cadangan minyak dan gas di Kuwait, Teluk Meksiko, dan Laut Utara.”

Karena itu, melihat penuturan Brezinsky di atas, salah besar jika ada kalangan yang menyangka bahwa intervensi militer mutakhir yang dilakukan oleh Amerika di Afganistan tidak lain merupakan reaksi belaka atas berbagai ancaman dan bahaya yang bisa mengancam Amerika saat ini. Yang terjadi sesungguhnya, serangan Amerika atas Afganistan adalah dalam rangka meluaskan pengaruh dan hegemoninya secara total atas sejumlah wilayah kaya di dunia. Paling tidak, demikian yang bisa dipahami dari kata-kata Brezinsky.

Yohanes Copel, mantan penasihat keamanan umum NATO dan penulis buku, Berbagai Rahasia Penting di Dunia, pada tanggal 6 November lalu mengisyaratkan hal ini dengan sejumlah ungkapan penting. Ia mengatakan, “Sejumlah kelompok berpengaruh di belakang Bush, dewan hubungan luar negeri, tiga lembaga yang dibangun Brezinsky, dan kelompok Bilder Birj (lembaga yang anggota-anggotanya terdiri dari para pemilik modal di dunia, orang-orang dari keluarga berpengaruh, dan para pemilik perusahaan di dunia) telah mempersiapkan sejumlah jalan; bergerak ke arah penerapan diktator global secara terbuka selama lima tahun terakhir; bukan dengan memerangi kaum teroris, tetapi dengan membunuhi para penduduk.”

Kata-kata semacam ini telah cukup menjadi bukti sekaligus dalil tentang adanya konspirasi pemikiran—sementara kalangan ‘ahli Islam’ mengklaimnya sebagai ‘sirkulasi pemikiran’. Akan tetapi, sejumlah kalangan di Amerika dan Barat yang mengatakan bahwa perang saat ini adalah perang hakiki, bukan sebagai perang yang bersifat reaktif, membantah ucapan mereka sendiri. Namun demikian, dalam penjelasan Wapres Amerika Dick Cheney, disebutkan, “Perang ini ‘tidak akan berakhir sepanjang hidup kita’.” Artinya, perang hanya akan berakhir setelah seluruh kekuatan— apapun bentuknya—yang memiliki potensi secara politik, ekonomi, maupun militer yang dapat mengancam hegemoni Amerika dihancurkan. Hanya saja, para ahli hukum Amerika menemukan kesulitan untuk merealisasikan sejumlah poin kesepakatan atas sejumlah persoalan luar negeri—dalam atmosfir masyarakat yang plural secara etnik dan budaya—kecuali pada beberapa kondisi di mana bangsa Amerika dapat memahami medan yang luas bahwa hal itu ditujukan karena adanya ancaman luar negeri yang nyata dan langsung terhadap Amerika.

Pada akhirnya, Brezinsky tidak dapat menyembunyikan kekhawatiran dan rasa takutnya— meskipun ia memiliki para ahli hukum—terhadap adanya ancaman atas berbagai ahal yang telah dirancang Amerika ini. Ia mengatakan, “Pada dasarnya, kebangkitan Islam berpotensi untuk menjadi pendorong dan penggerak semangat baru bangsa-bangsa yang ada, yang akan menambah suatu penetrasi—di Asia Tengah—dan sikap kukuh untuk melakukan penentangan atau mengembalikan sebuah koalisi di bawah bendera hegemoni Rusia.” []

Amerika: Mafia Minyak

Dugaan bahwa salah satu motif penyerangan Amerika terhadap Afganistan adalah faktor minyak semakin sukar dibantah, terutama menyusul ditunjuknya Zalmay Khalilzad, kelahiran Afghanistan, sebagai utusan khusus (special envoy) AS untuk Afganistan beberapa saat pasca penghancuran Afgan. Harian The Independent pernah menulis bahwa pada 1997, sebagai penasihat bayaran bagi perusahaan minyak multinasional Unocal, ternyata Khalilzad pernah bernego dengan pejabat Taliban guna membangun pipa gas alam dan minyak yang lumayan panjangnya. Diperkirakan cadangan alam di kawasan itu menduduki urutan kedua terbesar di dunia setelah Teluk Persia. Dugaan tersebut semakin sukar dibantah ketika Karzai, yang juga merupakan salah seorang konsultan Unocal, tampil sebagai pemimpin Afgan pasca Taliban dengan dukungan penuh Amerika.

Sebagaimana pernah dilansir Astaga.com, sebagai salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia, Unocal berambisi membangun jalur pipa gas dari Turkmenistan menuju Afganistan ke Pakistan, bahkan mungkin sampai India. Unocal terlibat dalam perang dagang untuk mendapat konsesi jalur pipa dengan perusahaan Argentina Bridas. Namun, Unocal menyimpulkan bahwa jalur pipa gas tak lagi dapat dipertahankan selagi Taliban berkuasa di Afganistan.

Dalam artikel berpengaruhnya pada edisi Musim Dingin 2000, Washington Quarterly, jurnal akademik, Khalilzad menulis gagasan yang menjadi prinsip dasar bagi pemerintah Bush pada perang di Afganistan. Berunding dengan Taliban hampir tak mungkin. Karena itu, usulnya, perlu digerakkan bersama pasukan Aliansi Utara dan kelompok Pashtun anti-Taliban, dan berunding dengan rezim penerus melalui mantan Raja Zahir Shah.

Gagasan Khalilzad dianggap cespleng oleh Presiden Bush yang menerapkan strategi itu hingga AS sukses menumbangkan Taliban. Bush berterima kasih kepada Khalilzad dengan mengangkatnya sebagai penasihat berpengaruhnya.

Pejabat AS yang dekat dengan bisnis minyak lainnya juga ada: President Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney yang memiliki latar belakang kental dalam bisnis minyak. Semuanya tahu bahwa Asia Tengah memiliki hampir 40 persen cadangan gas alam dunia dan 6 persen cadangan minyak.

Jean-Charles Brisard dan Guillaume Dasquie juga mengungkapkan ambisi minyak Bush. Brisard adalah mantan agen dinas rahasia dan penulis laporan Al-Qaidah, sedangkan Dasquie wartawan investigatif. Dua penulis Perancis itu mengatakan bahwa pemerintah Bush sebenarnya ingin menerima rezim Taliban, meskipun dituduh mensponsori terorisme, asal mereka mau bekerjasama dengan rencana pengembangan sumber minyak di Asia Tengah.

            Sementara itu, Pada 1997, seorang diplomat AS mempersoalkan keemiran Taliban, ketiadaan parlemen, dan penerapan hukum syariah. “Kita tidak bisa hidup dengan itu.” Inilah awal AS mulai menarik dukungannya dari Kabul.Lebih dari itu, Asia Tengah dan Selatan, seperti ditulis Khilafah Magazine (11/2001), menjadi bagian penting dari politik AS sekarang. Fokus AS telah berpindah dari Timur Tengah ke Asia Tengah. AS memiliki kepentingan untuk menghancurkan  kekuatan Islam di wilayah ini yang berusaha membangun kembali negara Islam.             Walhasil, Tragedi 11 September 2001—yang oleh sejumlah pengamat Barat sangat mungkin didalangi oleh Amerika sendiri—sebenarnya hanya pemicu dan pembenar bagi AS untuk menancapkan hegemoninya di kawasan ini. [ABI]

No comments: