Thursday, August 16, 2007

PBB DAN AS: Antara Budak Dan Majikan

PBB DAN AS:

ANTARA BUDAK DAN MAJIKAN


Dalam pidatonya di depan PBB (13/09/2002), Presiden AS George W. Bush menantang Dewan Keamanan PBB dengan mendesak PBB untuk mengeluarkan resolusi baru tentang Irak dalam hitungan hari atau minggu, bukan dalam bulan apalagi tahun. Secara arogan bahkan ia mempertanyakan relevansi keberadaan PBB dengan mengatakan, “Bagaimana kita menghadapi masalah ini akan membantu menentukan nasib lembaga multilateral ini, yang telah diabaikan secara sepihak oleh Saddam Hussein. Akan tetapi, lembaga ini tetap mampu menjaga perdamaian serta menanggapi ancaman yang sesungguhnya, atau akankah lembaga itu menjadi tidak relevan?”

Di bagian lain pidatonya, Bush menyebutkan bahwa Irak tidak pernah mau menjalankan 16 buah resolusi PBB—yang ditujukan khusus kepada Irak—seraya mengancam Irak untuk menjalankan ke-16 resolusi tersebut. Bush juga mengajukan 5 tuntutan baru terhadap Irak, yaitu menghancurkan senjata biologi, kimia, dan nuklir serta timbunannya; mengakhiri dukungannya pada terorisme; mengakhiri siksaan atas rakyatnya sendiri; membebaskan atau menginventarisasi warga non-Irak yang hilang selama Perang Teluk; serta mengakhiri upaya mengelak dari sanksi ekonomi PBB.

Tuduhan dan tuntutan Bush didasarkan pada sikap paranoid AS yang kemudian membuat tuduhan dan tuntutan ‘ilusi’. Tuduhan Bush atas Irak sebagai negara yang berhubungan dengan terorisme dan terkait dengan Serangan 11 September langsung terbantahkan melalui reportase yang dikeluarkan sendiri oleh badan rahasia keamanan AS pada minggu kedua bulan September 2002. Tuduhan AS terhadap Irak yang mengembangkan persenjataan biologi, kimia, dan tengah membangun fasilitas persenjataan nuklir juga segera dibantah oleh Hans Blix, kepala tim pengawas senjata PBB.

Kita justru harus mengalihkan perhatian kepada AS sendiri. Bukankah AS adalah negara yang terus menumpuk dan mengembangkan persenjataan biologi, kimia, dan nuklir? Bukankah AS sendiri yang menebar ketakutan dan teror di Afganistan, Irak, Timur Tengah, bahkan di seluruh dunia dengan ancaman-ancamannya; juga dengan doktrin preemptive attack (yaitu doktrin yang mengasumsikan AS memiliki hak untuk menghancurkan sebuah rezim karena kebijakannya) setelah sebelumnya menebar ancaman melalui politik luar negeri ‘stick and carrot’ dan ‘anda bersama AS atau anda bersama teroris’? Bukankah AS yang memperlakukan lawan-lawan politiknya—yang ditahan di pangkalan AS di Guantanamo—secara tidak manusiawi serta menolak kehadiran badan-badan independen untuk meninjau dan mengawasi pangkalan yang dijadikan penjara bagi para pendukung al-Qaeda?

Jika AS bisa mengancam PBB agar mengeluarkan resolusi dalam hitungan hari atau minggu, bukankah AS sendiri yang sebenarnya mengancam keberlangsungan PBB? Lalu perdamaian macam apa yang dipropagandakan oleh AS sehingga dengan bertalu-talu George W. Bush senantiasa ‘keranjingan’ menggunakan kalimat ‘war against terrorist’ dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia?

Di bulan ini, yang selalu diperingati sebagai hari (lahirnya) PBB, kita juga patut menggugat dan bersikap tegas terhadap PBB. Sebab, keberadaannya senantaiasa menjadi alat, corong, dan stempel bagi negara besar AS untuk memaksakan dan melegalisasi manuver-manuver politik maupun militernya di berbagai belahan dunia. Bahkan sejak lahirnya, PBB telah menjadi alat yang direkayasa oleh negara-negara besar untuk menyalurkan kepentingan-kepentingan politik mereka dan dalam rangka menjaga eksistensi dan kepentingan AS di luar negeri.

Selama lebih dari 50 tahun sejak usainya Perang Dunia II, dunia bukannya semakin aman; permusuhan dan peperangan pun bukannya menyusut. Puncaknya, setelah Peristiwa 11 September, PBB sudah menjadi lembaga internasional yang impoten, tidak berdaya di depan keperkasaan AS. Jika demikian, untuk apa bangsa-bangsa di dunia masih tetap teguh mempertahankan keberadaan PBB, dan masih menaruh harapan terhadapnya di tengah-tengah kampanye AS yang berbusa-busa dengan menebar teror, ancaman, permusuhan, peperangan, dan kekacauan di seluruh dunia?

AS belum merasa puas dengan keistimewaan yang dimilikinya di Dewan Keamanan PBB (dengan hak vetonya). Dengan pongah dan enteng, AS menekan PBB untuk melayani kepentingan AS di luar negeri. Bahkan AS dengan ‘teganya’ mengorbankan jutaan rakyat Muslim di Irak sebagai alat kampanye politik di dalam negerinya (karena di bulan November, di AS ada pemilihan anggota kongres, sementara pamor Bush dan Partai Republik untuk mesalah dalam negeri dan ekonomi jatuh akibat defisit dan kasus-kasus keuangan yang memukul perekonomian AS). Bagi Bush, serangan militernya terhadap Irak adalah cara untuk membungkam kampanye Partai Demokrat yang mengancam kedudukannya dan mengalihkan perhatian masyarakat AS dari resesi ekonomi yang menghantui mereka, di samping sebagai upaya untuk menjaga euphoria ‘nasionalisme’ bangsa AS yang tengah memuncak setelah Peristiwa 11 September.

Tragisnya, para penguasa Muslim tidak mampu bersikap tegas, baik terhadap PBB maupun AS. Ketakutan mereka terhadap lepasnya kursi kekuasaan yang didekapnya amat tinggi. Akibatnya, dengan mudahnya mereka mau merangkak dan menghinakan diri berjalan di belakang telapak kaki AS. Kalaupun para penguasa Muslim di kawasan Timur Tengah tidak mendukung serangan AS ke Irak, sikap mereka bukan dilandasi penentangannya terhadap AS, melainkan agar mereka tetap dapat memperoleh dukungan ‘semu’ dari rakyatnya yang membenci tindak-tanduk AS.

Yang pasti, sejak Peristiwa 11 September, pamor AS di dunia merosot tajam; terbentuk pula ‘karakter’ buruk yang ditampilkan oleh AS sebagai negara penebar teror, petualang perang, dan tidak peduli dengan perdamaian dan keamanan dunia. Memang, demikianlah wajah AS yang sebenarnya. Kebencian terhadap AS bukan hanya merebak di negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim, melainkan juga di negara-negara Eropa.

Namun, yang lebih pasti lagi, empati kaum Muslim terhadap eksistensi agamanya, terhadap kekayaan negerinya, terhadap sistem dan hukum Islam yang telah lama hilang—karena direnggut dan dikubur dalam-dalam oleh kekuatan sekular Barat—semakin menghangat. Peristiwa 11 September dan kampanye busuk AS tentang terorisme memunculkan arus balik yang sangat dahsyat. Bukan saja alunan kebencian terhadap AS makin menghentak, tetapi juga kecintaan dan kerinduan kaum Muslim terhadap penegakkan sistem dan hukum Islam makin mengalir deras.

Sungguh, pertolongan Allah (nashrullâh) itu sudah dekat, dan sungguh nashrullâh itu akan datang. Pasti! [AF]

No comments: